Kubilang juga apa. Sejak pertemuan pertama dengan pria itu, aku sudah mampu melihat yang lain dari dirinya. Senyumnya yang malu-malu membuatku teringat Nicholas Saputra di 3 Doa 3 Cinta. Polos tapi menggoda. Andaikan aku Dian Sastro di film itu, kurang lebih yang kurasakan adalah sama, "Nih orang cupu banget ya..", sambil ketawa-ketawa dalam hati. Jujur, dalam soal pergaulan, apalagi menilai personaliti seseorang, aku termasuk ahlinya. Rugi lah kuliah empat tahun di Psikologi tapi gampang diperdaya orang. Walaupun..walaupun pernah juga meleset sih. Itupun mungkin karena saking jagonya orang tersebut menyembunyikan kepribadiannya, alias punya kepribadian ganda. Haiiyzz.. jangan diingat-ingat lagi deh.
Tralala..trilili.. dia sekarang sedang berdiri berada beberapa meter di depanku. Menikmati pemandangan punggung bidangnya tanpa sadar membuat hatiku bersenandung lagu gak jelas, soundtrack dari film Korea super romantis yang baru kutonton semalam. Anganku melayang ke setting lokasi film semalam, yaitu sebuah bukit penuh dengan bunga-bunga berwarna violet, dan beberapa detik lagi aku akan telah merebahkan badanku ke gundukan kapas empuk diantara bunga-bunga itu, ketika tiba-tiba..
"Ehemm.." Jegerrr!!! Suara deheman agak pelan itu membuyarkan lamunanku. Sedetik kemudian kupastikan mukaku sudah seperti udang rebus yang hendak dilahap orang. Merah dan pasrah. Saking malunya. Wait..wait.. tapi itu cuma sedetik, dengan keahlianku dan ke "cool" anku, sedetik kemudian kupastikan mukaku sudah tenang kembali.
"Pagi-pagi koq udah ngelamun.." godanya.
"Iyah..gara-gara kangen pacar.." jawabku sekenanya. Padahal aku kan jomblowati, pacar dari Hong Kong. Tapi paling tidak dengan jawaban itu, dia bakal berhenti berpikir macam-macam seandainya, ya seandainya dia tahu aku sedang memandanginya beberapa lama dari belakang tadi.
"Yippi, cerdas banget lo, Mi", puji diriku sendiri. Aku nyengir kuda.
---o/o---
Tak terasa sudah sebulan berlalu sejak aku menginjakkan kaki di kota sejuk ini. Awalnya aku merasa terasing, maklum setelah seperempat abad lahir dan hidup di kota metropolitan, kota kecil dan sepi seperti ini benar-benar memasung kebebasanku. Membuatku malas kelayapan. Seusai maghrib, sambil nonton acara teve lokal yang jayus abis, biasanya aku akan tertidur sampai.. saatnya shalat malam. Ya..ya.. satu-satunya hal yang membuatku merasa beruntung terdampar di kota kecil ini adalah aku bisa lebih meresapi arti hidup dan keberadaanNya. Setelah terungkapnya skandal perselingkuhan kekasihku yang menyesakkan dada beberapa bulan lalu.
Atmosfer kota ini seperti memiliki unsur magis yang bisa membuatku sedikit demi sedikit melupakan bagian pahit dari hidupku. Mantra penenang itu membuat laju kehidupanku di kota ini terasa lamban. Saraf otakku yang terbiasa bekerja overload seakan mendapatkan kesempatan untuk beregenerasi dan rileks. Ini berkah tersembunyi dari pelarianku. Perlahan tapi pasti aku merasa bisa menyatu dengan centang perenangnya.
---o/o---
Hari ini aku merasa lebih rajin dari biasanya, setelah shalat shubuh aku langsung mandi. Olala, baru kutahu kalau mandi pagi-pagi sangatlah menyegarkan. Belum lagi kabut yang turun gara-gara hujan semalaman kemarin. Dan anehnya aku merasakan tubuhku lebih hangat setelah mandi. Kutengok jam dinding kamar, aku masih punya cukup waktu untuk memanjakan diri sebelum berangkat ke kantor. Kuseduh secangkir teh jahe dan kue pie favoritku. Mmmhh, nikmatnya.. tiba-tiba aku terngiang lagu Letto - Sebelum Cahaya.Embun pagi bersahaja yang menyejukkan kalbu telah turun membasahi dedaunan.
Suasana kantor hiruk pikuk, aroma kesibukan sebelum tutup buku akhir tahun tercium dimana-mana. Setumpuk dokumen berlabel ini itu teronggok di atas meja kerjaku. Huuuufftt.. susah payah kukumpulkan semangat yang sudah kupupuk sejak pagi tadi, namun sepertinya mereka ilfeel membayangkan yang akan terjadi seharian nanti. Mereka jengah dan sepertinya hendak bersiap mengambil langkah seribu.
"Mau kemana kaliaaann.." teriak Si Komandan Semangatku. Teriakan itu menciutkan nyali para prajurit Semangat yang sudah mulai kocar-kacir.
"Cepat kembali ke posisi kalian masing masing. Sekaraaaannggg.." sengit sang Komandan.
"Rasain lo pada.." cengirku. Aku mulai berkutat dengan tumpukan dokumenku.
Satu jam, dua jam.. akhirnya kelar juga kerjaan ini. Eh, maksudnya tiba juga waktu makan siang. Jam 12 teng. Yayy!! Refleks aku berdiri sambil mengendorkan otot-otot tanganku ke atas, menggerakkan badanku ke kiri dan ke kanan sambil menguap . "Hoaaaaaahmm.. Melapar..melapar.." gumamku. Belum selesai action pribadi itu kulampiaskan, aku baru sadar ada sepasang mata yang mengamatiku dari tadi. Dengan mata terpaku yang membuatku apa ya.. sedikit risih. Tapi jujur, aku senang. "Dasar fetis" ketus Malaikatku. "Sejak kapan kamu nongkrong disana, Tampan" bisik Setanku. Dengan sama-sama salah tingkah kami melanjutkan aktivitas masing-masing, aku dengan gaya "cool" (lagi) melewatinya untuk keluar ruangan dan makan siang, sedangkan dia melangkah menuju ke jendela terdekat (dari hasil pantauan ekor mataku yang bisa diandalkan ketajamannya). "Gerah kali dia yaa.. Habis liat pemandangan tidak lazim dari tubuh indahmu, Mi.. Xixixixi" goda Setan lagi. Malaikatku manyun, tapi aku nyengir kesenangan. Siapa sih cewek yang marah kalo dipuji. Munafik.
---o/o---
Dikasih hati minta jantung. Itulah ciri lelaki. Eits, jangan negatif thinking dulu deh. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang 'menyerempet' bahaya, tapi soal si Cupu itu. Setelah melewati proses pendekatan yang sifatnya "Gerakan Bawah Tanah" karena takut ketahuan kolega lain, akhirnya kuberikan lampu hijau pada si Cupu untuk mendekatiku dengan cara klasik. Tak lain tidak bukan yaitu dengan menerima ajakannya untuk makan malam. Percaya atau tidak, setelah malam itu sekarang kepercayaan dirinya melesat bak petasan bumbung. Mulai dari merasa tak sungkan lagi menggoda secara terbuka, duduk dekat-dekat saat makan siang beramai-ramai dan.. kejadian yang terakhir adalah menyentuh lembut punggung tanganku. Herannya aku selalu jadi pihak yang salah tingkah setengah mati. Seperti kejadian minggu lalu saat dia bermaksud menunjukkan website tertentu yang berhubungan dengan proyek kantor, saking nervousnya, aku salah membedakan yang mana mouse snow whiteku yang mana tangannya. Moment itu terjadi pas aku bermaksud mengarahkan panah ke menu Gallery. Sumpah, super norak banget. "Salah sendiri punya tangan putih banget.." bela Setanku membantuku menutupi malu, Malaikatku hanya bisa geleng-geleng speechless.
Setelah insiden 'salah comot' itu, kami, tepatnya aku berusaha menjauh. Sengaja itu kulakukan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah demi menjaga gengsiku. Cap cewek agresif tidak ada di kamusku. Slow it down, baby. Semua harus ada seninya, dan sejauh ini "Jinak-jinak Merpati" masih menjadi jalan yang terbaik. Setan dalam pikiranku mulai nakal dan memberi ide-ide busuk untuk mengerjai si Cupu.
"Sorry boy, but I need to know how deep is your feeling.." tumben Malaikatku kali ini mendukung si Setan. Semakin muluslah misi JJMku. Halah..
---o/o---
Bosan dengan suasana kost, malam minggu kali ini akhirnya kuterima tawaran Amel, teman kantor sekaligus teman satu kostku untuk nongkrong bersama teman kantor lainnya yang notabene masih berstatus lajang. Mengapa kubilang akhirnya? Karena ini ajakannya yang ketiga kali dan baru sekarang aku mengiyakan. Sekilas kubayangkan suasana nanti. Pastinya agak canggung berkumpul dengan teman yang tidak satu divisi denganku, but it's okey lah itung-itung nambah luas jaringan. Wuih, berasa anggota MLM deh.
Suasana cafe yang bernuansa retro itu cukup sepi untuk ukuran malam minggu. Begini ini suasana akhir pekan di kota kecil. Untung suara musik yang berdentum-dentum membuat semangatku naik lagi sambil menikmati segelas ginger ale favoritku dan croissant pilihan Amel. Aku tak terlalu menanggapi rumpian teman-teman kantorku yang sibuk mengabsen para jejaka di kantor yang masuk 'High Quality Jomblo'. Aku tak tertarik topik ini sama sekali. Sempat kucuri dengar nama si Cupu disebut-sebut juga. Rupanya dia punya cukup banyak penggemar di kantor. Tapi aku tak mendengarkan lebih lanjut. Aku malah mengalihkan perhatianku dengan menyapukan pandangan pada para pengunjung cafe ini. Kebanyakan pasangan muda yang sedang kena panah si Cupid. Ada perih kembali mengaliri hatiku melihat mereka. Aku jadi teringat Keenan. Ah, Keenan mengapa harus ada malam itu. Malam dimana aku harus mengetahui semua kebohonganmu. Malam dimana aku harus melebur semua mimpi masa depanku. Susah payah kita sejak berseragam abu-abu menjadi sia-sia. Mataku memanas dan cairan mulai menggenang. Kutahan setengah mati supaya tidak jatuh dan membuat heboh teman-teman jomblowatiku yang lain.
Kurebahkan kepalaku yang mendadak meriang di bantalan kursi cafe yang empuk. Kulihat sekilas Amel menatapku keheranan, tapi cepat-cepat kupejamkan mataku sebelum dia bertanya-tanya lebih lanjut. Dia tampaknya mengerti bahwa aku sedang tidak mau diganggu, dia lalu kembali asyik dengan bahan obrolannya.
Kucoba mengosongkan isi kepalaku. Sedikit demi sedikit dan menuju satu titik hitam. Kurasakan gumpalan emosiku, meluruh sedikit demi sedikit. Ketika hatiku menenang, sayup kudengar suara pria-pria tepat di sekat sebelah kursi tempatku duduk. Mereka tertawa terkikik-kikik mendengar cerita salah seorang diantara mereka.Just for fun, kucoba larut dalam pembicaraan itu. Pria dan wanita tenyata sama saja. Topik pembicaraan paling utama dan paling menarik adalah lawan jenisnya. Begitu juga pria-pria ini. Awalnya mereka tentang pekerjaan masing-masing, lalu ketika ada yang mulai menyeletuk tentang lawan jenis, akhirnya topik terakhir ini mengalir bagai air bah yang tidak mau berhenti. Semuanya larut. Dari obrolan yang sopan sampai yang belakangan kudengar.. obrolan kurang ajar. Kadang aku meringis juga menahan tawa mendengar cerita mereka.
" Di kantorku, ada cewek cakep.. Namanya Naomi..", celetuk seorang pria yang sedari tadi ceritanya terdengar dominan.
" Wah kenalin dong sama kita-kita", teman-temannya menimpali hampir bersamaan. Aku semakin mendengarkan dengan seksama.
"Wah, yang ini.. Maaf, boys.. Ini buat aku aja ya..", ujar pria itu. "Dia itu.. mmmmh..eksotik.. seleraku banget..", lanjutnya.
"Gak setia kawan kau, Gie?", protes salah satu dari mereka. Teman yang lain koor di belakang protes tadi.
"Naomi.. Naomi.. Oooh..", si cowok yang disebut Gie itu mendesah. "Dasar sableng", batinku. Teman-temannya tertawa riuh rendah. Suasana semakin panas. Omongan mereka semakin tak terkontrol. Kata-kata sarkasme dan tak pantas mulai membanjir.
Mukaku merah padam. Siap meledak [ON].
"Mi..kamu.. kamu sakit? Kenapa mukamu?", tanya Amel ketika menyadari aku sudah bangkit dengan muka yang sudah gak jelas warnanya. Refleks aku memberikan kode padanya untuk diam dan tetap di tempat duduknya. Dia menurut saja. Teman yang lain saling berbisik melihat tingkah anehku. Aku tak peduli. Kurenggut gelas ginger ale ku yang masih kuminum setengah. Aku mengambil langkah besar-besar untuk menuju meja sebelah. Mendatangi gerombolan pria tadi. Dengan mudah aku mengenali pria yang disebut Gie, ternyata dia duduk membelakangi posisi berdiriku sekarang. Dengan kasar kucolek bahunya. Ketika dia menoleh dan melihat wajahku, dia tampak terhenyak.Mukanya menegang. Tanganku yang menggenggam gelas berisi ginger ale itu hampir kuayunkan, tapi mendadak urung. Beberapa detik atau bahkan semenit kemudian mataku dan Magi, pria yang disebut dari tadi disebut Gie oleh teman-temannya bertumbukan. Ada getaran yang lain. Entah. Matanya pun jadi teduh. Apakah karena rasa bersalah atau yang lain, aku tak tahu. Saat itu juga aku berlalu tanpa perduli lagi suaranya yang memanggil namaku.
Magi, Magi.. mengapa sekarang namamu berdenyut-denyut di hatiku perlahan. Ada desir halus menyertainya.

Ketika hatiku diselimuti awan gelap keraguan. Keraguan tentang kesetiaan seseorang.Itu kamu, Ga. Pelan tapi pasti kucoba menyatukan kembali serakan kepercayaan yang tersebar di sekelilingku. Apa itu percaya? Kata Si Bijak, percaya itu suatu keyakinan yang timbul tanpa perlu bukti. Itukah? Damn!! kenapa aku harus terlahir dengan firasat setajam ini. Firasat yang selalu membuatku ketakutan setengah mati.
Kita. Berapa lama aku dan kamu menghabiskan waktu bersama? Setahun, dua tahun, tiga tahun..dan sekarang tanpa terasa sudah tahun ketujuh. Ahhh, cepat sekali detik demi detik itu terbang meninggalkan goresan di lembar hidup kita. Kamu, masih seperti Arga yang kukenal, namun kini kau jauh lebih emosional, meletup-letup, yang jika kau memuntahkan lahar dinginmu itu membuatku serasa ingin hanyut bersamanya. Hilang dan tidak perlu melihatmu lagi. Namun diatas semuanya, aku benar-benar mengagumi sosokmu. Biarlah orang berkata aku seorang apa itu istilahnya. Hmmmmm, MASOKIS? Oh, Big No! kupikir mereka terlalu naif menilai aku seperti itu. Jauuuuuh diatas semuanya, aku memiliki rasio yang amat kuperhitungkan. Hanya saja, entah kapan 'Saudara Tiri'ku itu akan menguat dan mengalahkan si Bodoh nan lemah ini..Someday? Yeah, maybe..*pesimistis menguasaiku*
Malam itu mengapa oh mengapa firasat buruk itu kembali menyengat. Aku terbayang-bayang kamu, segunung kenangan kita dan..hei, siapa bayangan wanita yang yang tersamar itu. Siapa itu, Ga? Jawab!!
Semalaman itu aku gelisah menunggu kabar darimu. Otakku terasa meradang, mataku tak mau bersantai barang sejenak untuk sekedar lelap ayam. Aku benciiii..benci ke-acuh tak acuh-anmu, dinginmu, strictmu..dan benci dengan cemburuku pada sosok bayangan itu.
Tick..Tick..
Malam ini, malam ketiga. Kukumpulkan segenap keberanian dengan melunturkan segalon rasa gengsi yang mengendap di segenap sisi harga diriku sebagai perempuan. Langkahku ini tidak akan terhenti lagi..dan sebagai tujuannya adalah sebuah rumah mungil di ujung kota. Dengan langkah penuh kehati-hatian kulewati hamparan batu karang kecil di depan rumahmu. Didepan pintu depan rumah yang terbuka teronggok sepasang sandal pink glossy, cantik nian rupanya. "Sama dengan warna favoritku..", gumamku.
Rasa penasaranku makin membuncah. Tanpa suara kumasuki rumahmu dan kudengar canda tawa sepasang anak manusia, laki-laki dan perempuan. Tiba-tiba perutku dilanda mulas. Kukenali suara laki-laki itu adalah..KAMU, sedangkan suara perempuan itu..cukup familiar rasanya. Tapi..siapa dia?, batinku memburu.
Tuk..tuk..tuk.. *suara langkah sepatuku*
Sekarang..selangkah lagi aku akan memasuki ruang keluarga. Agak remang jelas kulihat, sepasang bayangan diatas sofa kecil favorit kita. Rambut wanita itu panjangnya sebahu. Beberapa detik kemudian jelas kulihat wajahmu, pias..menyadari aura kehadiranku di tengah kalian. Kamu terkejut apalagi aku, Ga.., namun wanita terkutuk itu tetap diam. Dan..yang terjadi setelah itu benar-benar di luar kendaliku. Entah, kekuatan apa yang merasuki aku hingga tanganku yang mungil nan cantik ini dengan kasar meraih rambut wanita yg masih saja mematung itu. Sreeeeeettt, kutarik penuh amarah, dia mengerang kesakitan dan memalingkan wajahnya yang..Ya Tuhankuu, wajah itu wajahku sendiri. Semuanya menghitam..aku BLACKOUT..
Rasa hangat menjalari pipiku saat terasa kesadaranku memulih. Wangi kayu-kayuan khas seorang Arga memenuhi rongga paru-paruku. Bersamaan dengan itu mengalirlah embun sejuk yang lama tak kudapatkan setelah (paling tidak) anniversary kita yang ke tiga. Inikah bahagia yang sesungguhnya? Sesuatu yang kembali setelah kubiarkan ia menjadi pengembara liar di tanah hati kami yang menandus.
Tanpa ba bi bu, kuserbu bidang hangat di dadamu, "persetan dengan firasat", bisikku. Aku tak mau lagi percaya firasat. Aku tahu pasti penanda itu ada, tapi aku memilih mengabaikannya. Yang kutahu, firasat kali ini adalah ketakutan belaka. Tak terbukti. Hipotesis yang pincang.
Hening beberapa menit, lalu pecah..
"Na, maksudmu persetan itu apa?" tanyamu polos.
"Sudahlah,Ga. Aku cuma gak mau kehilangan kamu.." bisikku. Kamu tersenyum manis dan aku meringis dalam hati, "Semoga mimpi tadi biarlah menjadi sesuatu yang tak (pernah) sempat terucap.."
Beberapa hari ini badanku demam. Perubahan cuaca yang tak menentu (pagi sampai menjelang siang panas menyengat, namun giliran sore hujan turun deras..OMG..) sedikit demi sedikit mengikis pertahanan tubuh kurusku. Sesekali kuhirup segelas air jeruk manis panas yang mulai menghangat dan sengaja kuletakkan di bibir jendela kamarku. Sluurp..Aku sangat menikmati kegiatan yang satu ini, duduk santai sambil mengamati lalu lalang kendaraan dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua rumahku. Paling tidak aku dapat melepaskan sejenak segala kejenuhan pikiranku yang menghimpit. Segala tetek-bengek pekerjaan dan bah..masalah cinta!
Aku tak berani mendefinisikan apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku. Kemarin kucoba berbagi cerita ini pada seorang sahabatku, namun apa coba yang kudapat? hanya godaan dan candaan yang tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Thanks, Mieke for the help :( Well, semuanya berawal dari pertemuanku dengan seorang pria, Wiem, sebut saja namanya seperti itu. Dia adalah saudara sepupu Mieke, sohibku sejak SD dulu. Usianya baru akan menapaki 22 tahun di bulan Agustus nanti.
******************************************************************************************************************
Sabtu pagi kira-kira jam setengah enam tiba-tiba hpku bergetar, sebuah sms masuk. Hari libur seperti ini biasanya setelah melaksanakan shalat shubuh, aku akan melanjutkan tidurku sampai jam tujuh nanti, balas dendam ceritanya. Setengah sadar kubaca isi sms itu.
Pagiyy, Vina..sori kalo jadi ngebangunin kamu. Temenin aku ke Sby dunk, ade sepupuku baru pindah tugas dari Yogya, dan suamiku gak bisa nganterin. Mau ya? Mau ya? Mau ya? Pliiiisss!
Sender: KekeChantique – Hp
Hoahemmm!! Mieke memintaku untuk menemaninya ke Surabaya rupanya, dan sepertinya dia benar-benar ingin aku meluluskan permintaanya. Ya sudahlah, jarang-jarang sekali dia memintaku seperti ini dan kebetulan aku juga sudah lama tidak ke Surabaya.
Segera kubalas smsnya,
Siyappp, Non..btw, jam brapa yah?
Send
Tak lama kemudian ada balasan kembali darinya,
Jam 7an aja yah..biar nyampe situ gak kesiangan. Ok, Sweety? Aku udah pesen travel kemaren malem coz aku yakin gak mungkin ditolak, ha3.. C U!
Sender: KekeChantique – Hp
Hup, aku segera beranjak dari tempat tidurku dan mengambil handuk. Saat aku melangkah menuju dapur untuk merebus air panas untuk mandi, aku berpapasan dengan Leon, abangku yang sudah bersiap-siap untuk jogging bersama Mama dan Papa. Dan seperti yang sudah kuduga, keheningan pagi yang dingin itu terpecah oleh celotehannya.
“Waduh waduh..Mama mimpi apa semalam?” seru Leon.
“Memangnya ono opo tho?” Mama yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri Leon.
“Tuh..anak gadis Mama sepagi ini udah mau mandi lho..lupa kali kalo sekarang hari libur ” tunjuk Leon dengan muka meledek.
“Leon berisiiiiik!!! Emang yang lupa siapa??” aku mulai terusik.
“Memangnya kamu mau pergi tho, Nduk?” akhirnya Mama menengahi.
“Iyah, Ma..Keke ngajakin ke Surabaya, ada sepupunya yang baru pindahan dari Jogja”
“Yo wis, kalo gitu nanti kamu sarapan dulu, ada rawon tadi Mama udah panasin”
“Makasih, Ma..” aku mendekati beliau dan mendekapnya dari belakang. Beruntung sekali aku mempunyai Mama yang super sabar yang selalu siap menjadi penengah kami berdua.
“Aduuuh..Mama kok mau-maunya sih dipeluk orang yang masih bau naga!” Leon nyolot lagi sambil terkekeh-kekeh.
“Berisiiiik!!!!” akhirnya aku masuk ke kamar mandi. Gosok gigi. Huh, Leon memang makhluk yang menyebalkan!
******************************************************************************************************************
Jam tujuh teng aku sudah berada diatas travel yang akan membawaku, Mieke dan Charles menuju ibukota Jawa Timur, Surabaya. Keduanya sudah duduk manis menantikanku. Charles nampak semakin tembem.
“Good morning, Mama Vina!” sapanya dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
“Lutunaaa..” gemesku sambil mencium pipinya.
Syukurlah perjalanan kami lancar dan tidak terlalu macet, terutama saat melewati daerah yang terkena bencana lumpur Lapindo. Yah, sejak peristiwa yang fenomenal tersebut perjalanan Malang-Surabaya yang dapat ditempuh dengan mudah menjadi membosankan apalagi jika sudah terjadi kemacetan panjang. Dan sekarang kami bertiga sudah berada di depan kost karyawan tempat sepupu Mieke di daerah Surabaya Utara.
“Tunggu Vin, aku telpon dia dulu..”
“Okey, Ke..” sambil tetap mengawasi Charles yang berlarian di pinggir jalan, jadi miris juga, akhirnya aku raih tangannya untuk memastikannya tetap aman.
“Sini, Lez..jangan jauh-jauh dari Mama Vina..disini jalannya rame”
“Iyah..” Charles langsung menuruti kata-kataku.
Tidak lama kemudian muncul sesosok pria muda berbadan tinggi dan atletis. Ooo, ini dia orangnya, lumayan juga batinku nakal.
“Allow semuanya..wah, nggak nyangka nih omonganku kemarin diseriusin sama Mbak. Lho, ini Charles tho..tambah gedhe yo..” ucap pria itu yang perhatiannya langsung tertarik pada sosok anak kecil dalam gandenganku. Dia melirikku sekilas.
“Sini dong, masa udah lupa ma Om Wiem..” pria itu membentangkan kedua tangannya dan Charles langsung mendekat dan memeluknya. So sweet..
“Eh iya, Wiem..kenalin ini Vina, yang sering kuceritain itu loh..”
“Wah, akhirnya bisa ketemu juga disini. Mbak Keke suka banget nyeritain Mbak tiap ketemu lebaran. Perkenalkan saya Wima Anggoro..tapi panggil saja Wiem” pria ini memperkenalkan dirinya dan tak lupa memberikan sebuah senyum yang memperlihatkan lesung pipinya. *Ehemm..*
“Vina..O ya? Wah, mudah-mudahan cerita yang bagus-bagus deh..”
Wiem melirik ke arah Mieke sesaat dan kemudian keduanya tertawa bersamaan.
Dua saudara sepupu yang aneh!
“Lha kok jadi ngobrol di luar tho..masuk yuuuuk ” Wiem mempersilakan kami masuk dan memandu kami menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Sesampainya di kamar Wiem kami disambut susu coklat hangat, memang di bulan-bulan awal tahun saat curah hujan sedang tinggi-tingginya, kegiatan yang paling enak dilakukan adalah menyeruput minuman hangat sambil bermalas-malasan menonton acara televisi. Ah, tapi untuk saat ini aku hanya bisa menghirup susu coklat hangat sambil menyapukan pandanganku pada suasana kamar. Kamar ini cukup bersih dan rapi untuk ukuran kamar seorang pria (Tiba-tiba aku jadi teringat akan kamar Leon, abangku semata wayang, yang selalu kelihatan seperti kapal pecah, dan kamar itu baru akan kelihatan neat and clean bila aku dengan sukarela membersihkannya. Aku meringis dalam hati mengingat makhluk satu itu). Ada sebuah televisi, boombox dan poster Chicago Bulls dan Michael Jordan (I see, dia seorang pecinta basket rupanya..), selebihnya dinding bersih tanpa ada terlalu banyak aksesoris, hanya sebuah jam dinding. Diatas lemari ada foto diri Wiem dengan seragam dinasnya. Dia kelihatan dewasa dalam foto itu.
Setelah beberapa saat, Charles mulai gelisah dan merasa bosan. Akhirnya aku pamit untuk mengajaknya berkeliling sebentar dan membiarkan mereka berdua asyik mengobrol. Siangnya Mieke mengajak kami untuk menikmati lontong balap khas Surabaya kesukaannya. Aku disibukkan oleh kegiatan memilah-milah taoge dari piring Charles karena ternyata dia tidak menyukainya. Nyam-nyam..untuk perutku yang keroncongan, lontong balap ini enak banget. Tak terasa, akhirnya sore telah menjelang dan travel yang akan membawa kami kembali ke Malang pun telah menanti. “Thanks semuanya, jangan kapok maen kesini lagi ya..” Wiem melambaikan tangannya saat travel beranjak meninggalkan halaman kostnya.
******************************************************************************************************************
Itulah pertemuan pertamaku dengan Wiem. Setelah itu beberapa kali dia pernah mengirim sms atau menelepon sekedar untuk menanyakan kabar. Seperti sms di suatu malam yang agak larut.
Malem, Sista..R U there?
Sender: Wiem – Hp
Lalu kubalas,
Yup, lagi susah tidur. Ada apa nie?
Send
Wiem membalas lagi,
Gpp, lagi bete nie. Aku telpon ya!
Sender: Wiem – Hp
Beberapa detik kemudian handphoneku berdering, dan mulailah kami mengobrol ngalor-ngidul, dan selanjutnya dia sering sekali menelponku untuk mencurahkan isi hatinya, menceritakan hobinya bermain basket, naik gunung hingga musik favoritnya, dan pada suatu ketika akhirnya diketahui bahwa kami sama-sama sedang tergila-gila pada James Blunt, itu tuh musisi Inggris mantan tentara yang multi talenta dan gape menciptakan lagu. Terutama lagu “You’re Beautiful”.
Entah sengaja atau tidak, sejak saat itu, setiap dia menelponku, entah itu di kamar kostnya, di kantornya atau di mall saat dia sedang hang out, pasti lagu itu menjadi pengiring pembicaraan kami. Mau tidak mau, dengan semakin nge-hits lagu itu dimana-mana, setiap mendengarnya aku menjadi tersenyum-senyum sendiri karena teringat pada Wiem. Satu hal yang baru kutahu adalah..ternyata James Blunt itu seorang berondong..yah, seorang pria muda kelahiran Jogja dua puluh satu tahun yang lalu.. ;))
***************************************************************************************************************
Jam sebelas malam hpku berbunyi. Ada telepon masuk. Dengan sedikit kesal karena tidur lelapku terganggu, nama yang tertera disana “Wiem - Hp”.
Ada apa dia telpon lagi yah? Something important?
“Hallowhh,Wiem..” sahutku pada orang di seberang sana
“Waduh, udah tidur ya, Sist..Maaf..”
“Gak papa. Ada yang bisa kubantu?”
“Iyah..Sista gak keberatan buat dengerin aku kan?..Tunggu sebentar..”
“Aku dengerin kok..” beberapa saat suasana hening
Wiem? Wima? Are you there?” panggilku tapi tetap tidak ada jawaban
Saat aku bersiap menekan tombol merah pada hpku untuk mengakhiri panggilan, tiba-tiba terdengar suara petikan gitar memainkan intro lagu “You’re Beautiful” milik James Blunt.
Apa-apaan ini. Dia pasti salah minum obat deh!
Setelah itu terdengar suara seorang pria menyanyikan bait-bait lagu itu. Aku seperti tersihir dan tidak dapat berkata apa-apa setelah itu.
My life is brilliant, my love is pure
I saw an angel, of that I’m sure
She smiled at me on the subway,
She was with another man
But I won’t lose no sleep on that,
Coz I’ve got a plan
U’re beautiful. U’re beautiful
U’re beautiful. It’s true
I saw your face in a crowded place
And I don't know what to do
Cause I’ll never be with you..
Dentingan gitarnya begitu bersih dan suaranya walau tidak sebagus penyanyi aslinya, cukup menghiburku.
“Sist..Sista..do you hear me?” panggilan Wima membuatku tersentak
“Eh iyah..iyah..bagus bangeeet, Wim. Hatiku sampe meleleh deh..” candaku
“O ya? Syukurlah..”
“Deuuu..yang lagi patah hatiii..” godaku lagi
“Sista jahat deh. Mungkin ini terdengar gila, tapi aku gak bisa bohongin hatiku bahwa..”
“Iyah..rugi banget gadis yang udah bikin patah hati kamu itu, Wim..” potongku
“Lho?”
“Menurutku kamu pria baik dan gak neko-neko..trus apa lagi yah?” tambahku lagi
“Lho?”
“Selama aku mengenal kamu..selalu nyambung kalo diajak ngobrol dan perhatian.. trus..” lanjutku semakin bersemangat
“Sista!” seru Wima
“Eh..ya?”
“Sista kok jadi melantur sih. Sebenernya Sista tau gak sih siapa yang bikin aku kayak gini? ”
“Gadis Jakarta itu kaaan? Yang pernah kamu ceritain sama aku..”
“Bukan. Sok tau..”
“Lho?”
“Sista orangnya..”
“Lho?” gantian aku yang melongo
*Kok aku siiiih?*
“Gimana menurut Sista?”
*Gimana apanya?*
“Kamu salah orang kali..”
“Nggak. Jawab dong, Sist..”
“Jujur, aku suka kejutanmu malam ini..tapi.....” aku menggantung kalimatku dan mencari kalimat yang tepat untuk Wiem. Suasana hening kemudian. Aku merasa tidak enak dengan keadaan ini.
“Ya udah..buatku paling gak udah enteng, gak ada beban lagi. Hehe,take it easy..tapi kita tetep bisa berteman kan, Sist?” tiba-tiba Wiem menengahi.
“Tentu aja!” aku menjawab spontan, hatiku yang sebelumnya merasa tak enak merasa baikan.
“Baguslah..maaf udah mengganggu istirahat Sista dengan hal yang tidak terlalu penting. May God bless you and..siapa nama kecengan Sista? Ehem..ehem..” kali ini dia balik menggodaku
“Safir” jawabku singkat
“Yah, Safir..Kalau ada apa-apa kabari aku..eh, becanda ding..G’Nite!” tutup Wima.
Klik. Belum sempat aku menjawab salamnya telpon sudah diputus olehnya.
Maksudnya??
Oh my God! sejenak aku terpekur di tepi tempat tidurku memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
*****************************************************************************************************************
Cinta itu tidak pernah salah. Itu yang pernah kubaca. Kalimat itu terus bergema dibalut kekalutan. Batinku sedang menggugat pada alam. Mengapa harus tercipta suatu keadaan, waktu, serta tempat yang tepat untukku, sehingga pada akhirnya dia hadir dalam lembaran hidupku yang penuh kepanikan dan hingar bingar. Entahlah..terkadang alam memang bekerja dengan rumus-rumusnya yang tak dapat dicerna dan tak terbantahkan.
Wiem, sebenarnya kalau aku jujur pada hati kecilku, aku merasakan hal yang berbeda saat dekat denganmu. Memang aku sering merasakan kebahagiaan itu saat bisa berdekatan dengan Safir, pria incaranku di kantor yang mulai memberikan sinyal-sinyal positif padaku. Tapi denganmu lain. Ada sisi kedewasaan dan kesabaran dari seorang pria yang kuimpikan selama ini.
Tapi sungguh, aku tidak pantas untuk mendapatkan semua itu. Aku hanyalah seorang wanita lajang 27 tahun yang berpikiran kolot, hingga aku merasa tak pantas wanita dewasa sepertiku menjalin hubungan dengan berondong sepertimu. Kamu boleh saja menyebutku si Perawan Naif, karena memang itulah aku, wanita yang terlalu takut mendobrak nilai-nilai tradisi dan lebih memilih mengingkari hati nurani. I'm literally a loser, right?
Semoga ini tidak akan menjadi kehilangan terbesarku..G'luck my Brother..
Ketika tiba-tiba penyakit sok cerdas menyerang, iseng kuotak-atik rumus (tsahh..) diatas. Memang bukan rumus matematika, kimia apalagi fisika (karena membayangkannya saja sudah bikin kepalaku berdenyut-denyut..heheu..), tapi kurasa cukup berguna untukku (khususnya). Setidaknya sebagai bahan evaluasi, sejenak memutar ulang memori perjuangan hidup yang sudah terlewati. ( Upps, all of the positive things of course..^_^ )
Okey, time to serious..akan kujelaskan maksudnya satu per satu.
Pertama, 27 years adalah umurku sekarang ini (baru aja lewat ultahnya..). Alhamdulillah..aku memang sudah setua itu. Perjalanan waktu yang sudah melewati “Silver Age”, betapapun masih banyak sisi ketidakdewasaan (baca: ketidaksuksesan) yang melekat pada diriku. Sigh. Banyak hal yang sudah kucecap, manis pahit asam getir hidup, mungkin belum sempurna namun semua sukses memberikan pembelajaran terbaik buatku yang keras kepala dan radikal ini.
Aku teringat perkataan seseorang tentang penilaiannya padaku beberapa tahun yang lalu “Dari luar kamu itu terlihat seperti benda yang memiliki kelembaman tinggi. Tampak tenang, sulit dan malas bergerak. Namun setelah menyelami lebih jauh, sebenarnya kamu adalah sebuah bola bekel yang lincah dan ingin bergerak kesana kemari. Kadang seseorang bisa salah arah dan jadi tidak berhasil menangkap, karena memang begitulah si bola bekel, dia bisa berubah haluan hanya karena sedikit saja salah perhitungan.”
Mendengar kata 'lembam' aku teringat salah satu hukum dalam pelajaran Fisika, bahwa sebuah benda akan cenderung mempertahankan keadaannya. Seperti misalnya benda yang diam akan cenderung diam dan sebaliknya. Untuk bisa menggerakkan benda tersebut maka kita memerlukan energi yang besar pada awalnya. Nah, setelah benda itu bergerak maka energi yang diperlukan akan terus berkurang.
Memang benar adanya. Banyak orang berpendapat bahwa aku adalah seorang wanita yang kalem dan nrimo, namun sesungguhnya aku tidaklah sesederhana itu, ada sebuah energi besar yaitu pelajaran hidup yang membangunkan kesadaranku bahwa banyak keterbatasan yang menghalangi seorang anak manusia untuk sekedar selalu menjadi baik hanya demi membuat orang lain bahagia. Karena apa? Karena kebaikan itu sendiri sifatnya relatif. Tidak akan ada habisnya.
Aku adalah makhluk hidup, dan sesuatu yang hidup itu selalu berubah dan tidak statis. Benar kan?
Kedua, 5 cm adalah judul novel milik Dhony Dirgantoro, dimana di dalamnya aku menemukan salah satu kutipan favoritku:
“Kalo lo yakin sama sesuatu, taruh itu disini ( di dahi), 5 cm dari kening lo, dan setelah itu kita hanya butuh kerja yang lebih keras”
Singkat saja memang, namun berhasil menyengat semangatku yang sering naik turun dalam melakukan sesuatu. Banyak hal yang telah kumulai dengan penuh semangat berakhir menjadi pengisi agenda harian yang tak pernah terselesaikan, atau lebih parah menjadi onggokan sampah intelektualitas. Whew..
Dalam banyak kasus, aku akan kembali bersemangat jika melihat orang-orang terdekatku mulai menapaki jalan suksesnya masing-masing dan aku sendiri masih 'stuck'. Aku kembali terlecut, walau dengan napas satu-satu karena terbiasa berjalan dengan kecepatan standar. Dan aku tidak boleh terlalu lama berhenti untuk mengambil napas, karena betapa berat untuk memulai semuanya dari awal lagi, tersengal-sengal lagi. (Jangan sampai, deh..)
Dari penjumlahan kedua hal tersebut:
1st, Perbandingan jumlah usia efektif yaitu usia sekarang dikurangi waktu yang 'lost target' (waktu yang hilang, atau lepas target, jika ada hitungan dalam beberapa bulan bulatkan ke bilangan tahun) dibagi dengan usia sekarang. Misal: Usia X sekarang adalah 25 tahun, waktu yang 'lost target' 2 tahun, maka perbandingannya adalah => (25-2)/25 = 23/25 = 0,92.
Jika perbandingannya sempurna (tidak ada 'kegagalan' waktu) diperoleh angka satu (1). Untuk contoh diatas maka => 25/25 = 1.
2nd, Prosentase effort (kerja keras), dalam hal ini (sebaiknya) dilakukan dengan sejujur-jujurnya, perkirakan dari 0% – 100%, berapakah nilai kerja keras yang sudah kita usahakan. Jika sudah dapat konversikan ke dalam interval antara 0 -1 (Contoh: 10% sama dengan 0,1).
Jika kita merasa telah melakukan kerja keras dengan sempurna (100%) maka nilai yang di dapat adalah satu (1). Dalam kasus si X, dia menilai kerja keras yang sudah ia lakukan adalah 70%, so nilai effort yang didapatkan 0,7
Kemudian kedua hasil perhitungan si X tersebut dijumlahkan:
0,92 + 0,7 = 1,62 <= Ini nih hasil yang didapatkan si X, let's check dia termasuk si Lembam ato Lincah yach? * penasaran *
Result Scoring:
Total nilai yang diperoleh si Lincah Sempuna adalah dua (2). Selamat yah buat siapapun yang ada di level ini.. * tatapan iri *
Jika interval berada diantara 1,99– 1,5 maka termasuk si Lincah Passionate. Golongan ini sangat potensial, karena dengan sedikit sentuhan formula inovasi dan keberuntungan maka kata sukses bukan mustahil. * kayaknya aku belum nyampe sinih.. T.T *
Nilai interval 1,49 – 1 diperuntukkan bagi si Lembam Berpotensi, karena meskipun memiliki kelembaman dan inkonsistensi dalam bekerja keras, namun masih dapat ditolerir dan terangkat oleh bakat, intuisi dan semangatnya yang luar biasa saat mengejar kealpaannya itu. Asal jangan terlalu sering 'drop' ajah, Say..
0, 99 – 0,5 adalah nilai untuk si Keasyikan Lembam. Hmrm..ada banyak faktor yang menyebabkan golongan ini, antara lain pengaruh lingkungan yang membentuk pola pikir nrimo dan pasrah atau faktor dari diri sendiri ( rasa cepat puas karena berada di zona aman, rasa malas yang mendarah daging, dsb dsb.)
Sisanya tidak akan dibahas disini, karena aku yakin tidak ada seorang pun yang mau masuk kategori Lembam Sampai Mati. Kecuali memang sudah bosan hidup aka putus harapan. Naudzubillah..
Well, aku masuk kategori yang mana yah? * mikir sok serius * Au ah..lagian rahasia kalee.Insya Allah bukan yang terakhir. koq. How tragic can that be for a ME? Go figure!
Gud luck, Fellas 'n dun be Lembam @ all..Key??
“Small variations of the initial condition may produce large variations in the long behavior of the system”
Butterfly Effect jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah Efek Kupu-kupu. Asal muasal ketertarikanku pada teori ini yaitu setelah menonton film lumayan lawas (2004) dengan judul yang sama dan dibintangi oleh..*cough* suami tante Demi Moore, Ashton Kutcher. Film bergenre dramatic sci-fi thriller ini menceritakan tentang seorang pemuda (Evan) yang berusaha untuk merubah kenangan buruk masa kecilnya. Dan dalam perjalanan itu, dia pada akhirnya menemukan cara untuk dapat kembali ke masa lalu melalui jurnal yang dia tulis untuk mengatasi ‘blackout’ yang sering dialaminya. Setiap perjalanan waktu yang dilakukannya selalu merubah apa yang menjadi masa depannya, sehingga ia selalu mencoba kembali usaha tersebut untuk mencegah semua hal yang tidak diinginkan. Namun kenyataan berkata lain.
Well, disini aku tidak ingin membahas lebih lanjut tentang filmnya, namun tentang Butterfly Effect itu sendiri. Dikisahkan pada tahun 1961, Edward Norton Lorenz (seorang asisten profesor) melakukan penelitian untuk memprediksi kejadian cuaca dengan bantuan simulasi komputer. Hitung punya hitung, Mr. Lorenz membulatkan angka yang diperolehnya itu ke dalam bilangan desimal 0,506. Namun alangkah sangat terkejutnya Mr. Lorenz (lebay banget deh gue, he2..). Ketika ia memasukkan bilangan desimal yang didapatkan dengan lebih lengkap yaitu 0, 506127 ternyata hasil skenario cuaca yang didapatkan benar-benar berbeda dari sebelumnya. Dari simulasi tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa kepakan sayap kupu-kupu sekalipun dapat mengakibatkan ataupun mencegah terjadinya tornado (nah lho..). Itulah sebabnya kemudian hasil penemuan tersebut diberi nama Butterfly Effect a k a Efek Kupu-kupu.
“Sesungguhnya, seluruh kejadian di semesta alam ini adalah kejadian acak (random)”
Berpegang dari fenomena tersebut yang dilandasi oleh berbagai kejadian yang bersifat acak, maka efek kupu-kupu ini dalam budaya masyarakat kemudian menjadi sebuah metafora untuk keberadaan peristiwa yang terlihat tidak penting namun dapat merubah sejarah, bahkan takdir seseorang.
Seperti kita tahu, begitu banyak peristiwa yang kita lalui dalam hidup yang sepertinya kacau dan berantakan namun ternyata saling berhubungan satu sama lain. Seperti misalnya aku adalah seorang arachnophobia (sebutan buat orang yang takut sama laba-laba dan sebangsanya..hiiy..). Pasti kemudian aku dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan, antara lain: Bagaimana ceritanya aku bisa takut pada laba-laba? Mungkin gak sih aku takut pada makhluk itu hingga sekarang seandainya aku tidak pernah bertemu kakak kelas TKku yang super nakal dan mengejar-ngejarku dengan mainan laba-laba hitam berbulu super gede dan hendak memasukkannya ke dalam tasku sampai aku berlari ketakutan setengah mampus? Atau apa yang terjadi seandainya aku mengalami peristiwa lain yang kurang atau lebih dari itu? Whew..
Aku teringat sesuatu yang pernah kubaca di buku Jamil Azzaini bahwa satu peristiwa yang terjadi bisa membuka atau menutup peluang terjadinya peristiwa lain yang lebih besar. Kemungkinan yang kita alami juga akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kemungkinan yang dialami orang lain. Bahwa kita seolah-olah berada dalam suatu ruangan tanpa batas dengan kombinasi kemungkinan yang tidak terhingga ( Subhanallah..). Ummh, lalu bagaimana kita menyikapi realita ini? Secara naif mungkin kita bisa berfikir begini: Aku akan berpasrah, toh apapun yang terjadi padaku adalah karena memang merupakan kejadian yang saling berhubungan. Ada benarnya juga, tapiiii..bukan berarti pasrah sebelum berusaha yang terbaik dooonk. (Oh God, U’re so in the wrong..) Memang sebagai manusia kita mempunyai banyak keterbatasan, tapi kalo kita memahami teori (keren) satu ini kita bakal percaya bahwa sekecil apapun keputusan yang kita buat dalam hidup, cepat ato lambat akan memperlihatkan konsekuensinya. Dari teori efek kupu-kupu itu sendiri, sulit rasanya diterima akal secara langsung jika (hanya) karena kepakan kupu-kupu dapat menyebabkan tornado. Toh, energi kinetic dari tornado itu sendiri berasal dari matahari dan kupu-kupu hanya dapat mempengaruhi detil tertentu dari peristiwa cuaca dalam bentuk acak.
Namun harapan yang kemudian mengemuka adalah: Bahwa segala sesuatu itu terjadi karena suatu alasan, dan kita sebagai penghuni setia bumi tidak ada ruginya bila dapat menunjukkan dengan tepat semua alasan tersebut, betapapun kecilnya. Walaupun kuasa terbesar tetap menjadi milik alam sih.. *manggut-manggut*
NB: Untuk filmnya, aku dapat mengambil benang merah bahwa tidak ada seorangpun yang bisa yang kembali ke masa lalunya, dapat kembali dengan versi kehidupan yang sama. Kalo gak salah ini disebut time paradox.
Personally, aku tidak akan pernah menyesali apapun yang pernah terjadi di masa lalu (termasuk kakak kelas TKku itu..Sigh..). Evrythin I hav now is my present ‘n future..gak kurang, gak lebih..Yeah, aku memang (hanya) seekor kupu-kupu, tapi aku ingin kepakanku ini someday dapat memberikan peluang untuk terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam hidupku. Yes, I totally am..
Let’s go get the shit kicked out of me! Hehe..

I luv Friday! Yippe, pagi ini saat aku baru membuka mata, sebuah berita gembira telah menyambutku. Adek sepupu cowokku lolos SPMB Manajemen Unbraw..Wow!
He looks so happyyyy dan tentu saja aku juga ikut merasakan euforia itu..
Hmmm, how fast time flies! Kayak baru kemaren liat dia pake seragam putih merah, eh sekarang dia udah berdiri menjulang tinggi dengan kaos hitam khas band underground favoritnya di hadapanku..
Tapi, aku bersyukur dia gak termasuk one of those silly teenagers. Cowok rumahan, tingkahnya gak macem-macem dan gak pernah pacaran. Whehee, guwe banget tuh..aku kan juga kayak gitu dolo..(cieee.maksyudmuh ngomong gitu apa, Rient?)
Well aniwe..G’Luck yah, Bro..selamat kuliah dan selamat datang di university of life juga..The wild world is out there..(Hiks, jadi inget rasa kecewa pas gak lolos SPMB 8 taon lalu. Pfiuhh, rasanya lebih merana ketimbang kehilangan cowok deh kayaknya.. (lha.. katanya gak pernah pacaran..lol))
Hari Jumat kemarin, kota Malang tercintaku mendapat kesempatan untuk menjadi tempat diselenggarakannya acara off air Kick Andy “Kekuatan Cinta”. Aku dan Gank Tokala (Lia, Icha plus Nita) tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang belum tentu datang dua kali ini. Ditambah Loni, sahabat Icha, berangkatlah kami berlima menuju UMM Dome jam satu siang teng. Breemm!!
Sesampai disana ternyata suasana sudah sangat ramai. Kami disambut seorang Mbak yang menawarkan sebuah kuisioner untuk diisi dan ditukar dengan produk sponsor yaitu barang kebutuhan khusus wanita (guess it!). Tapi karena melihat antrean masuk sudah cukup panjang akhirnya kami lebih memilih untuk segera mengambil posisi dalam barisan penonton. Ternyata kami mendapat konsumsi, koran dan goody bag juga euy! Isi tasnya majalah plus polo shirt. Wah, acara Kick Andy gratis gini aja udah seneng, eh ternyata masih dapat bonus pula. Mau doooonk kalo sering-sering. Hehe...
Acara dibuka oleh Splash Band (bener gak siy?) yang melantunkan lagu-lagu top 40, dan setelah beberapa saat muncullah si empunya acara yaitu Andy F. Noya. Beliau habis potong rambut kayaknya, jadi kelihatan lebih seger. Bintang tamu pertama adalah Dwi Krismawan. Seorang calon pilot mengalami cacat luka bakar akibat pesawatnya menabrak gunung Gede hanya sehari menjelang saat wisudanya. Tragis! Tapi aku salut banget dengan kisah cintanya. Sang kekasih yang akhirnya menjadi istri, Ibeth dengan kebesaran hati menerimanya, bahkan melepas karirnya yang cukup cemerlang untuk lebih total menemani Dwi melalui hari-hari sulitnya. Ini mungkin yang dinamakan cinta sejati yah? Sesuatu yang teramat langka. Ada sesuatu yang nyentuh hatiku, yaitu kata-kata Ibeth, ”Dan kini saat akhirnya Dwi mampu menatap dunia dengan kepala tegak, menjadi pembicara di beberapa seminar, inilah kemenangan saya yang sesungguhnya”. Wih, ini kali ya rasanya kalo udah ada di level tertinggi mencintai seseorang.
Kapan ya aku bisa mencintai seseorang tanpa ada rasa cemburu, takut tapi benar-benar ikhlas, whatever it takes! Mungkinkah?
Bintang tamu kedua adalah Den Mas Sugeng, sang juragan kaki palsu asal Mojokerto. Walaupun secara penampilan seperti preman ternyata dia memiliki hati mulia dengan membantu orang-orang yang memiliki keterbatasan seperti dirinya. Hebatnya meski dibuat tanpa ketrampilan khusus sebelumnya, kaki palsu buatannya mendapat respons positif dari para ahli ortopedi loo.. So, akhirnya produk kaki palsu ala bapak satu ini dipatenkan. Wow, keren! Pas dia melepas kaki palsu, aku sempat agak merinding, seorang temanku malah nyeletuk “Entar pulangnya jangan ngebut deh, jadi ngeri. Ntar kayak Den Mas Sugeng, hiiy..”
The last but (of course) not least, bintang tamunya adalah Bang Andrea Hirata. Again,Bang! Setelah acara di Brawijaya dimana daku dapat mengambil fotonya dari dekat plus tanda tangan, ternyata masih berjodoh juga kita. Hmm..bisa ditebak, suasana langsung heboh saat si Abang satu ini muncul dari balik panggung. Bahkan sempat ada jilbabers yang mengungkapkan kebahagiaanya dengan meluap-luap karena bisa bertemu orang yang paling dikaguminya, diimpikannya, bla bla bla (menurutku caranya terlalu over deh, buktinya penonton lain pada protes juga “Huuuuu, biasa aja kali, Mbak!”). Yah, aku gak menyalahkan juga, mungkin cara ekspresi tiap orang kan beda-beda.
Back to Andrea, kali ini dia kelihatan lebih rileks ketimbang acara di Brawijaya dulu, mungkin karena acaranya talk show kali yah? Bukan forum resmi. Beberapa kali dia mengcounter banyolan-banyolan dari Andy. Apalagi saat disinggung tentang proses casting peran A Ling di film Laskar Pelangi yang akan diproduksi Mira lesmana dan Riri Riza, dia melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil mendapatkan mainan. Lucu banget, ternyata benar juga yah bahwa setiap orang pasti memiliki sisi ‘childish’ *wink*
Ditutup oleh band (lagi) akhirnya acara selesai juga. (Ada lagu fave ku “Mind Trick”nya Jamie Cullum). Sempetin foto-foto sebentar di mobil Metro TV punya, lumayan buat narsis-narsisan di FS, teuteup! Wait, wait, sebelum pulang akhirnya baru kita sempetin untuk mampir ke counter Mbak yang menawarkan barang kebutuhan khusus wanita itu deh. Tambah banyak ‘oleh-oleh’nya..
Btw anw busway, hari ini capeek banget soalnya kemaren malemnya insomnia, bangun gak bisa kesiangan (sebel!) trus siang ampe hampir maghrib nonton Kick Andy, tapi..seneeeeng, jadi ilang tuh yang namanya capek dsb. Semoga Malang sering-sering dapet kunjungan acara bermutu kayak gini, bukan cuma acara konser musik yang (menurutku) cuma menghabiskan banyak daya listrik sementara masalah krisis energi sedang mengemuka. Uuugh..
Seratus!! buat yang menebak-nebak dalam hati bahwa ini adalah judul lagu Letto, kebetulan aku juga udah punya lagunya satu album. In my opinion, lagu-lagu Letto semuanya cukup variatif ‘n catchy di telinga. Tapi yang bikin aq tambah suka lagu ini (bisa ngerasa ‘dalem’) ya setelah liat video clipnya yang dibintangi Dominique Diyose n (ehem ehem..my brother) Restu Sinaga minggu lalu di Inbox.
Sumpah, liat video clipnya aku jadi terbawa ke beberapa taon yll saat film-film pendekar China lagi booming, seperti The Return of Condor Heroes, Assasination, Judge Bao, dsb.dsb. (jujur aku salah satu penonton setia juga, hehe..Eh iya, kalo ga salah ada yang judul dalam bahasa Indonesianya, kalo ga salah inget ‘Penjaga Pintu Naga” ya?? Dat’s my favourite one..). He2, bukan itu deng, lagu itu punya lirik yang menyayat hati dan didukung suara Noe yang mellow, jadilah aku semakin ‘biru’. Entahlah.. tapi di sisi lain, lagu ini menguatkanku bahwa rasa kehilangan sesuatu hanya akan ada, jika aku pernah merasa memiliki sesuatu.
Seperti hukum alam yang lain, ada rasa memiliki maka sebaliknya ada rasa kehilangan..
Tak mampu melepasnya, walau sudah tak ada
Batinmu tetap merasa, masih memilikinya
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah, merasa memilikinya..
Pernahkah kau mengira, kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya, dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah, merasa memilikinya..

Believe it or not,kadang hal-hal yang tidak sengaja kita lakukan bisa jadi justru berkesan pada akhirnya. Kayak acara nonton Jumat kemarin, aslinya cuma Lia & Icha yang ngebet pengen nonton Iron Man, aku cuma ngikut mereka ajah..
Wah,ternyata pilemnya keren juga. Yang jadi Tony Stark super keren, walo awalnya rada heran gitu. Herannya coz biasanya orang super jenius kayak ilmuwan gitu digambarkan berpenampilan geek & kuper, tapi si Tony ini macho & playboy abiez..(Nah loh!)
Ceritany si Tony ini pewaris Stark Industries, perusahaan pembuat senjata & bom perang di Amerika. Suatu kejadian membuatnya ditawan oleh pemberontak Afghanistan, sehingga dia dipaksa utk membuat senjata pemusnah massal sebagai syarat pelepasan dirinya. Akhirnya dengan bantuan ilmuwan yang jadi tawanan juga, dia berhasil menciptakan sebuah alat, bukan pemusnah massal namun sebuah robot. Robot inilah yg nanti akhirnya berhasil membuatnya menghirup udara bebas kembali..
Selepas dari tawanan dia terus menyempurnakan robot itu menjadi the real Iron Man.
Yah, seperti cerita-cerita komik, tidaklah seru donk kalo tanpa ada peran antagonis. Tersebutlah Obadiah, rekan bisnis almarhum ayahnya yang ingin mengakuisisi Stark Industries. Beruntung Tonny memiliki asisten cantik nan pintar, Pepper. Cewek ini yang akan memegang peran penting di akhir pilem.
Dari sisi cerita, gampang ditebaklah kisah heroik ini. Cuma sebagai bonus plus-plus, kita dipamerin teknologi robotik & komputer juga. Ada bumbu kisah cintanya dikit, hehe..kalo boleh berpendapat, kurang lebih kayak lagu KLA Project "Tidakkah pernah engkau sadari, cinta yang kau cari ada di depan mata.." *wink*
Untuk lebih lengkapnya yaaa, nonton sendiri aja kali yaaa..
Abiz nonton daku cari pulsa ke OkeShop (yang laen pada kosong siy..), terus mamper ke D'Crepes..hmm..nyam-nyam deh..
Sekian kisah The Iron Man yang menurutku cute overload itu..(masih kebayang yang maen niy,hehe..lol)

This is my face, covered in freckles with occasional spot and some veins
This is my body, covered in skin and not all of it U can see
And, this, is my mind
It goes over and over the same old lines
And, this, is my brain
Its torturous analytical thoughts, make me go insane
And I use mouthwash, samtimes I floss
I got a family, and I drink cups of tea
I've got nostalgic pavement, I've got familiar faces, I've got a mixed up memory
And I've got favourite places, and I'm singing "oh oh" on a Friday nite, & I hope evrythin's gonna be allright
This is my face, I've got a thousand opinions, and not the time to explain
And this is my mind, and although U try to infringe, U cannot confine
And, this, is my brain, and even U try and hold me back
There's nothin dat U can gain
Lagi suka dengerin Kate Nash, gw bangett siy,he2..for better or worse, Thx, Lord! 4 da life, mungkin aq belum bs jd makhlukMu yang pandai bersyukur & olwez complaining :(( Tapi sdikit banyak aq telah berubah dalam memandang hidup..aq pernah baca kalimat ini di novel,nyentouch bgt "Tuhan menjawab doaku dulu persis sama spt yang tak kuminta. Begitulah cara Tuhan bekerja. Tuhan tidak tunduk pada postulat ato teorema manapun. Oleh karena itu, Tuhan sama sekali tak dapat diramalkan.."
U go, Gal!
Apa kabar sobat kecilku? Sudah hampir dua dasawarsa berlalu, sejak terakhir kita bertemu sebelum kenaikan kelas lima SD. Yang paling kuingat darimu adalah keramahan dan mata teduhmu. Walaupun aku juga pernah melihatmu cemberut, jika menemui sesuatu yang tidak berkenan dihatimu. Aku juga ingat hari pertamamu sebagai murid baru di kelasku. Yang jelas sebagai anak pindahan dari kota besar, kamu nampak lain daripada rata-rata teman sekelas yang memang lahir dan besar di kota kecilku saat itu. Kesan pertamaku tentangmu, kamu pendiam dan sedikit sombong, tapi aku juga melihat sifat pemalu saat kamu memperkenalkan diri di depan kelas. Entah kenapa akhirnya kamu duduk disampingku, sehingga teman sebangkuku sebelumnya malah disuruh pindah, mungkin karena aku sang ketua kelas pada saat itu (he3..ga nyombong dink :p). Aku dan segala rasa ingin tahuku langsung menanyaimu ini-itu, dan dengan sedikit malu (atau jaim nie?) kamu menjawab pertanyaan-pertanyaanku, dan yang paling penting senyum tidak pernah absen dari wajahmu..he3. Singkat cerita, kita menjadi cepat akrab, bahkan kalo tidak salah, kita kecil-kecil sudah belajar ‘korupsi’ kan? ‘Korupsi’ nilai maksudnya. Istilah kerennya sekarang simbiosis mutualisme :p Ehm gini ceritanya ..berhubung aku lumayan pintar di kelas (lha sombong lagi deh..he2), seringkali aku me‘ngatrol’ nilaimu supaya tidak terlalu jatuh, caranya kalau peer atau ulanganmu salahnya banyak, aku akan menghapusnya dan membenarkan jawabannya, jadi akhirnya kamu tidak mendapat nilai merah, ha3.. tapi sunnguh aku ikhlas melakukannya, walaupun pada akhirnya kita sadar bahwa apa yang kita lakukan itu salah..gara-gara nasihat pas pelajaran agama..so that was the end of our crime.
Time goes by, kita menjadi tambah akrab, malah terkadang kamu sering mencurahkan isi hatimu padaku, tentang segalanya, keluarga dan hidupmu. Tak tahu mengapa, aku dapat menangkap sesuatu dari ceritamu, entah benar atau tidak, kamu itu sebenarnya sudah lebih dewasa dari usiamu sesungguhnya, bahkan saat itu aku belum terlalu ngeh dengan ceritamu. Dan ini bagian cerita yang paling kusuka, kamu adalah orang yang paling rajin membawakan aku ‘upeti’,he3..paling sering kamu membawakan aku roti keju yang enak banget (dari toko roti paling beken di kotaku pula..asyiiiik!). Padahal aku tidak pernah memintanya (karena aku selalu ingat bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima). Kadang-kadang coklat atau cemilan-cemilan lain yang tidak kalah enaknya. U really know how to make a little girl happy. Aku masih ingat saat kamu tertawa renyah setiap kali berhasil memasukkan ‘upeti’ itu ke dalam tas Simpsonku yang super gede itu karena takut diketahui oleh teman-teman yang lain dan membuat mereka iri. Itulah yang aku banggakan darimu, kamu paham sekali bagaimana menjaga perasaan orang lain.
Setiap pelajaran menggambar tiba, saat itulah aku bisa mendengarkan ceritamu panjang lebar tentang apa yang kamu tuangkan dalam kertas gambarmu. Selera kita memang berbeda, seperti saat kita ditugaskan untuk menggambar rumah, aku hanya menggambar sebuah rumah kecil yang penuh bunga, ada kolam ikan, pokoknya sebuah rumah yang sejuk dan asri. Sedangkan kamu menggambar sebuah rumah besar lengkap dengan parabola, mobil dan bergaya klasik. Aku Cuma terkagum-kagum saat kamu menceritakan gambarmu dan khayalan-khayalanmu karena memang sesungguhnya saat itu aku tak terlalu paham dengan itu (mungkin kamu sekarang sudah menjadi arsitek handal sesuai dengan ceritamu dulu). Kadang aku merasa ini adalah persahabatan yang lucu, karena aku adalah gadis tomboi yang selalu bicara blak-blakan, sedangkan kamu selalu memilih diam walaupun aku tahu di dalam hatimu merasa tidak setuju. Tapi itulah kita, kita bisa saling melengkapi satu sama lain.
Apa kabar sobat kecilku? Sudah hampir dua dasawarsa sejak kepindahanku ke kota Apel ini, dengan tanpa memberimu kabar tentang kepindahanku. Sungguh, aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih. Hingga salah seorang teman SD kita mengirim surat dan ia berkata dalam suratnya, “Tha, kamu jahat sekali pindah tanpa mengabarinya. Dia sangat bersedih mendengar kepindahanmu. Tolong hubungi dia.”. Dheg! God, what I’ve done! Aku merasa menyesal sekali saat itu. Tapi bodohnya, mengapa setelah itu aku tidak berpikir untuk sekedar menelpon atau berkirim surat padanya. Aneh, aku sendiri tak tahu mengapa. Setahun setelah itu, aku mendapat kabar lagi bahwa kamu juga sudah pindah ke kota lain (seingatku suatu kota di luar Jawa). Yah, setelah itu ceritamu benar-benar tenggelam. Walaupun kadang aku masih sering teringat kamu saat membaca atau mendengar namamu disebut, mungkin karena namamu cukup pasaran, ha3..becanda ding! Beberapa kali aku mencoba menuliskan namamu di mesin pencari Google atau media pertemanan seperti Friendster, Multiply dan lain-lain, tapi hasilnya nihil. Padahal aku cuma ingin mengetahui kabar terbaru tentangmu. Benar juga kalau ada yang bilang, “Sahabat itu datang dan pergi, sedangkan musuh berkumpul”. Hmmm..Semoga kamu masih mengingat masa kecil kita, sebuah kurun yang penuh kegembiraan dan kenakalan.
Brand New Post
Deposit Box
- August 2010 (2)
- March 2010 (1)
- June 2009 (1)
- March 2009 (1)
- February 2009 (2)
- November 2008 (1)
- October 2008 (1)
- September 2008 (2)
- August 2008 (5)
- July 2008 (2)
- June 2008 (1)
- May 2008 (5)
- April 2008 (2)
- August 2007 (1)